Gerakan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren ini digagas oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU),  Prof. H. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. Setelah melakukan silaturahim ke beberapa Pondok Pesantren di Jawa Timur. Beberapa pesantren menyampaikan bahwa Santri membutuhkan setidaknya empat tahun untuk menguasai pengetahuan yang diajarkan di Pondok Pesantren. Jika Santri masuk Pondok Pesantren masuk bersamaan dengan pendidikan Madrasah Aliah (MA) atau yang sederajat, maka dibutuhkan waktu tambahan satu tahun lagi untuk . Menurut Menristekdikti, selama waktu satu tahun tersebut Santri perlu dibekali dengan pendidikan tambahan. Agar Santri dapat menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren dan tetap mendapatkan pengetahuan umum. Menristekdikti menyampaikan bahwa untuk pendidikan tambahan tersebut adalah pendidikan D1 yang hanya memerlukan waktu 1 Tahun untuk proses belajar mengajarnya. Hampir semua bentuk perguruan tinggi bisa menyelenggarakan pendidikan dengan level D 1. Namun bentuk pendidikan Akademi Komunitas merupakan bentuk pendidikan yang lebih tepat untuk menyelenggarakan pendidikan dengan level D1 bagi Santri. Melalui Akademi Komunitas, Santri akan mendapatkan pendidikan keahlian khusus sebagai bekal kehidupannya.

Gagasan tersebut semakin menguat setelah Presiden Republik Indonesia menyampaikan pidatonya pada Sidang Tahunan MPR Tahun 2018 yang menyatakan bahwa “Kualitas pendidikan perlu kita tingkatkan agar lebih banyak manusia Indonesia yang berdaya saing, seperti melalui program pendidikan vokasi dan sertifikasi profesi sehingga tenaga kerja kita sudah langsung siap bekerja saat lulus masa pendidikan.”

Pada bulan Juli 2018, Bidang Riset dan Kerjasama LPTNU mendampingi Pondok Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi untuk pendirian Akademi Komunitas. Pada saat yang hampir bersamaan, Direktorat Riset Yayasan Penabulu yang berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Penaber dan Pesantren Umi Rotiah juga sedang mengusulkan pendirian Tinggi Akademi Komunitas Penabulu Samudra Wiyata bagi masyarakat Pulau Bawean Kabupaten Gresik. Pertemuan kedua lembaga yang sedang berproses membantu upaya pendirian Akademi Komunitas tersebut dilanjutkan dengan pertemuan diskusi berbagi pengalaman. Salah satu rekomendasi dalam pertemuan adalah melakukan pertemuan dengan Menristekdikti untuk menyampaikan kendala dan tantangan yang dihadapi dalam pendirian Akademi Komunitas.

Pertemuan yang dilakukan oleh Bidang Riset dan Kerjasama LPTNU dan Direktorat Riset Yayasan Penabulu dengan Menristekdikti mengerucutkan perlu adanya gerakan nasional untuk mendorong pendirian Akademi Komunitas oleh Pondok Pesantren. Bidang Riset dan Kerjasama LPTNU dan Direktorat Riset Yayasan Penabulu selanjutnya diminta untuk membantu merumuskan dan melakukan pengawalan terhadap gerakan nasional tersebut.

Pada tanggal 27 September 2018 bertempat di Hotel Aston Jember, dilaksanakan launching perdana Gerakan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren di Propinsi Jawa Timur. Launching dilaksanakan secara sederhana dengan diisi sosialisasi tentang bentuk perguruan tinggi Akademi Komunitas. Launching perdana tersebut dihadiri oleh 66 Pondok Pesantren di Jawa Timur yang sudah mengelola Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), perwakilan perguruan tinggi, dan perwakilan dari pelaku industri. Sosialisasi Akademi Komunitas dan Gerakan Akademi Komunitas Berbasis Pesantren selanjutnya akan dilanjutkan di berbagai propinsi di Indonesia.